Sejak kecil saya senang membaca biografi orang besar termasuk para penemu. Bahkan kuliahpun saya pilih jurusan ilmu dasar karena dorongan ini. Beberapa ide2 penemuan pernah saya rekam dan berharap nanti akan mendapatkan hak paten..:) seperti jaket sepatu anti hujan atau jaket AC yang ternyata belakangan orang lain sudah menjualnya.
Hal ini terus berlanjut hingga pada suatu titik dimana saya "menemukan" bahwa diri ini ternyata tidak cocok di sisi kreatif tapi lebih cocok disisi "mengkompilasi" = menggabung-gabungkan sesuatu hingga menjadi sesuatu yang baru. Alih-alih lebih kreatif seperti harapan sebelumnya, saya lebih cocok di sisi efektif/efisien.
Hal ini pulalah yang menyebabkan bisnis yang saya buat akhirnya harus ditutup karena sisi kreatif ini. Lebih mudah membuat bisnis namun lebih sulit mempertahankan atau bahkan membuatnya lebih maju.
Saat membuat bisnis baru dan memulainya, barulah dalam taraf bisnis opportunity dengan harapan akan sukses jika kondisi2 tertentu tercapai. Karena baru harapan, pada prakteknya sulit sekali tercapai.
Tanpa bermaksud berpolemik, mempertahan bisnis dan membuatnya lebih maju,memerlukan sisi efektifitas/efisiensi. Memang kelihatan membosankan karena melakukan hal yang relatif sama terus menerus, tapi itulah yang dilakukan para bankir dan investor.
Teknik ATM atau bahkan ATP dilakukan untuk mengisi sisi kreatif ini.
Untung haruslah di depan, bisnis yang baru dibuat akan benar2 menghasilkan jika kondisi2 tertentu tercapai (harapan).
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( Alhamdulillah seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008 terlaksana dengan sukses)
Senin, 30 Juni 2008
Kamis, 26 Juni 2008
Jagalah feeling anda meskipun "salah"
Apakah anda berkali-kali gagal dalam berusaha?
Sudah mencoba usaha ini-itu, namun masih gagal juga?
Dan, apa yang anda lakukan? anda salahkan penilaian anda, keputusan anda..dan feeling anda.
Tapi..
Anda tidak sendiri, saya juga mengalaminya..
Bahkan sampai sekarang.
Memulai bisnis adalah perlu action, tindakan segera, setelah melakukan serangkaian penelitian dan analysis mendalam, sebelum memutuskan untuk bergerak, anda menimbang-nimbang lagi, apakah feeling anda cocok dengan bisnis ini.
Hampir 90% feeling saya salah, berakibat keputusan yang salah dan akhirnya bisnis harus ditutup. Hal ini membuat ketidakpuasan dan kepercayaan diri menurun karena keputusan yang 90% salah karena mengikuti feeling tadi.
Hingga akhirnya, saya diingatkan untuk tetap menjaga feeling tadi, meskipun itu salah!..Nah Loh.
Rupanya perlu mentor yang bisa melihat permasalahan dengan jernih. Nasehatnya sederhana: jika statistik kesalahannya meyakinkan (hampir 90%), justru bagus, Ambil TINDAKAN KEBALIKANNYA!
Terbukti kemudian beberapa keputusan relatif berhasil dengan melakukan tindakan "Kebalikannya" ini.
Apapun feeling anda, patut disyukuri. Jika feeling anda selalu tepat, teruskan. Jika "selalu" salah, ambil tindakan kebalikannya.
Life is beautiful.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( Alhamdulillah seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008 SOLD OUT!)
Sudah mencoba usaha ini-itu, namun masih gagal juga?
Dan, apa yang anda lakukan? anda salahkan penilaian anda, keputusan anda..dan feeling anda.
Tapi..
Anda tidak sendiri, saya juga mengalaminya..
Bahkan sampai sekarang.
Memulai bisnis adalah perlu action, tindakan segera, setelah melakukan serangkaian penelitian dan analysis mendalam, sebelum memutuskan untuk bergerak, anda menimbang-nimbang lagi, apakah feeling anda cocok dengan bisnis ini.
Hampir 90% feeling saya salah, berakibat keputusan yang salah dan akhirnya bisnis harus ditutup. Hal ini membuat ketidakpuasan dan kepercayaan diri menurun karena keputusan yang 90% salah karena mengikuti feeling tadi.
Hingga akhirnya, saya diingatkan untuk tetap menjaga feeling tadi, meskipun itu salah!..Nah Loh.
Rupanya perlu mentor yang bisa melihat permasalahan dengan jernih. Nasehatnya sederhana: jika statistik kesalahannya meyakinkan (hampir 90%), justru bagus, Ambil TINDAKAN KEBALIKANNYA!
Terbukti kemudian beberapa keputusan relatif berhasil dengan melakukan tindakan "Kebalikannya" ini.
Apapun feeling anda, patut disyukuri. Jika feeling anda selalu tepat, teruskan. Jika "selalu" salah, ambil tindakan kebalikannya.
Life is beautiful.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( Alhamdulillah seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008 SOLD OUT!)
Investasi di pembelajaran mahal? lebih mahal lagi kalau..
....................Anda berbisnis dengan melakukan "try & error".
Disebabkan eforia untuk segera berbisnis dan jargon2 terkenal seperti "just do it" dsb,dsb..banyak pemula yang memulai bisnis dengan tergesa-gesa, takut ketinggalan kereta, takut kehilangan momentum.
Demikian juga yang saya alami (lihat posting sebelumnya: http://0hasanbasri.blogspot.com/2008/05/persistensi.html), eforia ini membuat saya banyak menutup bisnis karena melakukan "try & error", tanpa analysis dan pola pikir ala bankir.
Selama ini bisnis2 yang saya buka adalah bisnis opportunity, untung di atas kertas, akan untung jika kondisi2 tertentu terpenuhi kata Pak Budi Rahmat. Selama ini saya malas untuk belajar dulu dan bergaul (networking/bersilaturahim).
Demikian juga saat tersedia begitu banyak pelatihan2 yang sangat berguna dalam menjalankan bisnis, cenderung saya abaikan karena pertimbangan untuk berhemat. Kerugian yang lebih besar berlipat-lipat harus saya bayar karena mengabaikannya. Maunya terjun langsung sambil belajar..:)
Berinvestasi di pikiran dan bergaul ( belajar dari yang telah terbukti sukses) adalah poin2 penting pola pikir bankir:
1. Untung di awal. Tidak ada yang salah untuk bersegera berbisnis. Namun statistik menunjukkan pebisnis opportunity banyak yang gagal. Dengan belajar dan bergaul, kita akan mempunyai feeling dan penilaian obyektif bisnis mana yang bisa memberi cashflow positif, bukannya "cash out..cash out" terus.
2. Semakin lama semakin mendekati keberhasilan. Dengan berpola pikir ini, kita akan bisa memilah bisnis mana yang mempunyai statistik keberhasilan yang lebih besar dibandingkan lainnya. Dengan belajar pola pikir pebisnis yang telah terbukti sukses akan membantu kita mempercepat akselerasi dan keberhasilan.
3. Bertambahnya jaringan. Dengan mengikuti pelatihan dari pebisnis sukses, otomatis kita masuk dalam jaringan bisnis mereka. Lebih dekat untuk mendapatkan ilmu dan peluang baru. Tentu mereka akan mereferensikan/membocorkan info/peluang terbaru kepada muridnya. Ada ikatan moral agar muridnya bisa berhasil. Ini yang tidak saya hitung saat berhemat dulu.
4. Waktu yang lebih pendek. Jika langsung berbisnis kelihatannya kita "start" duluan. Namun secara keseluruhan percepatannya akan kalah oleh mereka yang berani invest di pendidikan dan networking.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( Alhamdulillah seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008 SOLD OUT!)
Disebabkan eforia untuk segera berbisnis dan jargon2 terkenal seperti "just do it" dsb,dsb..banyak pemula yang memulai bisnis dengan tergesa-gesa, takut ketinggalan kereta, takut kehilangan momentum.
Demikian juga yang saya alami (lihat posting sebelumnya: http://0hasanbasri.blogspot.com/2008/05/persistensi.html), eforia ini membuat saya banyak menutup bisnis karena melakukan "try & error", tanpa analysis dan pola pikir ala bankir.
Selama ini bisnis2 yang saya buka adalah bisnis opportunity, untung di atas kertas, akan untung jika kondisi2 tertentu terpenuhi kata Pak Budi Rahmat. Selama ini saya malas untuk belajar dulu dan bergaul (networking/bersilaturahim).
Demikian juga saat tersedia begitu banyak pelatihan2 yang sangat berguna dalam menjalankan bisnis, cenderung saya abaikan karena pertimbangan untuk berhemat. Kerugian yang lebih besar berlipat-lipat harus saya bayar karena mengabaikannya. Maunya terjun langsung sambil belajar..:)
Berinvestasi di pikiran dan bergaul ( belajar dari yang telah terbukti sukses) adalah poin2 penting pola pikir bankir:
1. Untung di awal. Tidak ada yang salah untuk bersegera berbisnis. Namun statistik menunjukkan pebisnis opportunity banyak yang gagal. Dengan belajar dan bergaul, kita akan mempunyai feeling dan penilaian obyektif bisnis mana yang bisa memberi cashflow positif, bukannya "cash out..cash out" terus.
2. Semakin lama semakin mendekati keberhasilan. Dengan berpola pikir ini, kita akan bisa memilah bisnis mana yang mempunyai statistik keberhasilan yang lebih besar dibandingkan lainnya. Dengan belajar pola pikir pebisnis yang telah terbukti sukses akan membantu kita mempercepat akselerasi dan keberhasilan.
3. Bertambahnya jaringan. Dengan mengikuti pelatihan dari pebisnis sukses, otomatis kita masuk dalam jaringan bisnis mereka. Lebih dekat untuk mendapatkan ilmu dan peluang baru. Tentu mereka akan mereferensikan/membocorkan info/peluang terbaru kepada muridnya. Ada ikatan moral agar muridnya bisa berhasil. Ini yang tidak saya hitung saat berhemat dulu.
4. Waktu yang lebih pendek. Jika langsung berbisnis kelihatannya kita "start" duluan. Namun secara keseluruhan percepatannya akan kalah oleh mereka yang berani invest di pendidikan dan networking.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( Alhamdulillah seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008 SOLD OUT!)
Minggu, 22 Juni 2008
Pengusaha harus Borju?
Saat awal mengikuti sesi pelatihan entrepreneurship, banyak masukan untuk mengubah paradigma yang salah satunya adalah: Pengusaha harus borju, memakai mobil mewah dan royal...kalau perlu berhutang! agar termotivasi untuk berusaha lebih keras lagi.
Namun teman2 yang sudah sukses seperti Pak Joseph, Pak Budi Rahmat atau Pak Roni adalah orang yang hemat dan sederhana. Bahkan Pak Joseph pernah ke Bank untuk akad kredit diatas 2M memakai motor untuk mengejar waktu sesuai janji.
Tidak ada yang salah dengan statement diatas, masalahnya, seharusnya andalah (business owner) yang mengatakannya kepada klien anda. Seorang bankir kepada nasabahnya, seorang penjual kepada pembelinya.
Statement diatas menuju pola hidup konsumtif yang melanggar prinsip2 berusaha:
1. Untung di awal. Dengan berprilaku konsumtif, anda sudah kalah satu langkah. Bukannya untung, anda malah sibuk dengan cicilan utang konsumtif.
2. Pola hidup hemat = menunda kesenangan untuk menaikkan taraf hidup nantinya.
3. Pola pikir bankir. Arus informasi umum yang didukung oleh promosi/iklan yang dahsyat adalah produk jualan para bankir. Semakin konsumtif pelanggan, semakin laku produk2nya.
Pilihan menjadi subyek atau obyek usaha ada di tangan anda.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Namun teman2 yang sudah sukses seperti Pak Joseph, Pak Budi Rahmat atau Pak Roni adalah orang yang hemat dan sederhana. Bahkan Pak Joseph pernah ke Bank untuk akad kredit diatas 2M memakai motor untuk mengejar waktu sesuai janji.
Tidak ada yang salah dengan statement diatas, masalahnya, seharusnya andalah (business owner) yang mengatakannya kepada klien anda. Seorang bankir kepada nasabahnya, seorang penjual kepada pembelinya.
Statement diatas menuju pola hidup konsumtif yang melanggar prinsip2 berusaha:
1. Untung di awal. Dengan berprilaku konsumtif, anda sudah kalah satu langkah. Bukannya untung, anda malah sibuk dengan cicilan utang konsumtif.
2. Pola hidup hemat = menunda kesenangan untuk menaikkan taraf hidup nantinya.
3. Pola pikir bankir. Arus informasi umum yang didukung oleh promosi/iklan yang dahsyat adalah produk jualan para bankir. Semakin konsumtif pelanggan, semakin laku produk2nya.
Pilihan menjadi subyek atau obyek usaha ada di tangan anda.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Jumat, 20 Juni 2008
Jadi pedagang atau produsen?
Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada sebagian pemula, mereka kebanyakan memilih menjadi produsen (pemilik produk). Alasan terbesar adalah lebih mudah memulai bisnis dari hobi atau "passion". Tidak ada yang salah dalam hal ini. Namun statistik berbicara lain, hampir 80% pebisnis start-up tutup pada 5-6 bulan pertama. Hobi dan cashflow adalah dua hal yang berbeda. Apapapun bisnisnya (produsen atau pedagang) jika cashflownya negatif,hanya tinggal menunggu waktu untuk tutup.
Ada kutipan ungkapan yang cukup mengena dalam hal ini:
"Jangan menjual apa yang bisa kamu buat TAPI buatlah barang yang bisa kamu jual".
Yang berarti menjadi Pedagang.
Bagi pemula, lebih aman memulai bisnis dengan menjadi pedagang karena faktor-faktor berikut:
1. Secara cashflow sangat aman, modal relatif kecil bahkan bisa nol jika menjadi pedagang perantara. Keuntungan menjadi tidak terhingga.
2. Menjadi pedagang adalah langsung ke pokok bisnisnya dan berhadapan langsung dengan calon pembeli. Sebagus apapun barang anda jika tidak bisa dijual akan menjadi liabilitas.
3. Pilihan produk menjadi tidak terbatas. Anda bisa menjual produk apapun dan diatur segementasi pasarnya.
4. Strategi keluarnya terjamin jika terjadi kerugian. Dengan menjadi pedagang kerugian hanya di tenaga/waktu, di beberapa supplier, barang bisa dikembalikan jika tidak laku. Jika anda produksi sendiri dan terjadi kerugian, proses untuk menjual aset tidaklah mudah dan malah dihargai sangat rendah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Ada kutipan ungkapan yang cukup mengena dalam hal ini:
"Jangan menjual apa yang bisa kamu buat TAPI buatlah barang yang bisa kamu jual".
Yang berarti menjadi Pedagang.
Bagi pemula, lebih aman memulai bisnis dengan menjadi pedagang karena faktor-faktor berikut:
1. Secara cashflow sangat aman, modal relatif kecil bahkan bisa nol jika menjadi pedagang perantara. Keuntungan menjadi tidak terhingga.
2. Menjadi pedagang adalah langsung ke pokok bisnisnya dan berhadapan langsung dengan calon pembeli. Sebagus apapun barang anda jika tidak bisa dijual akan menjadi liabilitas.
3. Pilihan produk menjadi tidak terbatas. Anda bisa menjual produk apapun dan diatur segementasi pasarnya.
4. Strategi keluarnya terjamin jika terjadi kerugian. Dengan menjadi pedagang kerugian hanya di tenaga/waktu, di beberapa supplier, barang bisa dikembalikan jika tidak laku. Jika anda produksi sendiri dan terjadi kerugian, proses untuk menjual aset tidaklah mudah dan malah dihargai sangat rendah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Kamis, 19 Juni 2008
Jangan mulai berbisnis sebelum melakukan ini..
Memulai dan merintis bisnis relatif lebih mudah daripada mempertahankan atau bahkan membuatnya sukses.
Memaintain bisnis adalah masalah Cashflow, apapun bentuk bisnisnya. Sehingga tidak salah dalam pandangan umum, orang keuangan lebih berkuasa daripada orang teknik.
Seringkali karena dorongan emosi dan perasaan memiliki yang berlebihan, meskipun bisnisnya rugi tetap saja dipertahankan. Hal ini melahirkan skema gali lobang tutup lobang. Masalahnya lobangnya semakin besar saja..:)
Strategi jika bisnisnya sukses tidak perlu dibahas lagi, ini adalah "happy problem". Kebalikannya, yang justru sering dilupakan sebagian orang, adalah strategi untuk keluar jika bisnisnya rugi.
Hal ini harus diplaningkan sejak awal untuk mempertahankan cashflow, untuk melanjutkan bisnis, untuk melanjutkan hidup. Untung-rugi adalah biasa, yang penting akumulasi cashflow harus positif.
Beberapa strategi keluar yang bisa dilakukan adalah:
1. Subsidi silang. Dilakukan jika sudah memiliki bisnis yang sudah berjalan. Bisnis yang baru disubsidi dari bisnis lama hingga tercapai BEP bahkan surplus.
2. Asuransi. Jika terjadi kerugian terhadap hal yang tidak diinginkan. Hal ini lumrah diaplikasikan di property atau untuk pertanggungan jiwa.
3. "Cut loss". Daripada terus memberikan cashflow negatif dan tidak ada harapan untuk tumbuh-berkembang, lakukanlah "cut loss", terima saja kerugian yang timbul dan selesai. Lanjutkan bisnis, teruskan hidup anda.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Memaintain bisnis adalah masalah Cashflow, apapun bentuk bisnisnya. Sehingga tidak salah dalam pandangan umum, orang keuangan lebih berkuasa daripada orang teknik.
Seringkali karena dorongan emosi dan perasaan memiliki yang berlebihan, meskipun bisnisnya rugi tetap saja dipertahankan. Hal ini melahirkan skema gali lobang tutup lobang. Masalahnya lobangnya semakin besar saja..:)
Strategi jika bisnisnya sukses tidak perlu dibahas lagi, ini adalah "happy problem". Kebalikannya, yang justru sering dilupakan sebagian orang, adalah strategi untuk keluar jika bisnisnya rugi.
Hal ini harus diplaningkan sejak awal untuk mempertahankan cashflow, untuk melanjutkan bisnis, untuk melanjutkan hidup. Untung-rugi adalah biasa, yang penting akumulasi cashflow harus positif.
Beberapa strategi keluar yang bisa dilakukan adalah:
1. Subsidi silang. Dilakukan jika sudah memiliki bisnis yang sudah berjalan. Bisnis yang baru disubsidi dari bisnis lama hingga tercapai BEP bahkan surplus.
2. Asuransi. Jika terjadi kerugian terhadap hal yang tidak diinginkan. Hal ini lumrah diaplikasikan di property atau untuk pertanggungan jiwa.
3. "Cut loss". Daripada terus memberikan cashflow negatif dan tidak ada harapan untuk tumbuh-berkembang, lakukanlah "cut loss", terima saja kerugian yang timbul dan selesai. Lanjutkan bisnis, teruskan hidup anda.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Rabu, 18 Juni 2008
Daripada "head-to-head", cobalah pasar Tersier
Jika modal pas-pasan dan belum banyak berpengalaman dalam berbisnis, amatlah riskan jika harus melakukan pembukaan bisnis yang "head-to-head" (berhadapan langsung) dengan pemain besar/lama yang sudah eksis. Hal ini mirip dengan kondisi suatu deretan pedagang, dimana semua toko ramai hanya di toko kita tidak...
Kenapa tidak coba memilih pasar sekunder atau malah tersier? meskipun pangsanya relatif kecil, namun persaingannya juga relatif kecil. Dari sisi cashflow, meskipun tidak terlalu menghasilkan margin besar, namun aman dan sangat cocok untuk pemula.
Coba perhatikan tukang bubur kacang ijo dan toko kelontong Madura. Mereka bisa survive meskipun ada Indomaret.
Pasar Tersier ini terjadi karena "positioning" sbb:
1. Ambil waktu yang berbeda, Tukang bubur dan Toko Kelontong, prime time justru setelah jam 21.00 dimana bagi tukang bubur adalah jadwal lapar pelanggan setelah sorenya makan malam. Bagi Toko Kelontong adalah karena Indomaret sudah tutup dan ada pembeli yang punya kebutuhan mendadak di malam hari.
2. Harga relatif premium. Karena sedikitnya pesaing harga jual relatif lebih mahal sedikit daripada yang dijual toko kebanyakan atau bahkan harga di Indomaret.
3. Barang yang dijual adalah untuk kebutuhan sehari-hari seperti toko kelontong atau makanan ringan seperti bubur tadi. Namun ada fenomena menarik. Bengkelpun mulai buka hingga pagi. Mereka melayani karyawan yang ada masalah di kendaraannya. Mereka setor motor malam dan paginya jalan lagi.
4. Pasar yang terjadi karena keadaan. Seperti di Stasiun, terminal, halte. disebabkan mepetnya waktu sementara ada kebutuhan mendesak, maka orang cenderung membeli ditempat terdekat meskipun mahal. Pasar ini kebanyak diisi oleh pedagang K-5.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Kenapa tidak coba memilih pasar sekunder atau malah tersier? meskipun pangsanya relatif kecil, namun persaingannya juga relatif kecil. Dari sisi cashflow, meskipun tidak terlalu menghasilkan margin besar, namun aman dan sangat cocok untuk pemula.
Coba perhatikan tukang bubur kacang ijo dan toko kelontong Madura. Mereka bisa survive meskipun ada Indomaret.
Pasar Tersier ini terjadi karena "positioning" sbb:
1. Ambil waktu yang berbeda, Tukang bubur dan Toko Kelontong, prime time justru setelah jam 21.00 dimana bagi tukang bubur adalah jadwal lapar pelanggan setelah sorenya makan malam. Bagi Toko Kelontong adalah karena Indomaret sudah tutup dan ada pembeli yang punya kebutuhan mendadak di malam hari.
2. Harga relatif premium. Karena sedikitnya pesaing harga jual relatif lebih mahal sedikit daripada yang dijual toko kebanyakan atau bahkan harga di Indomaret.
3. Barang yang dijual adalah untuk kebutuhan sehari-hari seperti toko kelontong atau makanan ringan seperti bubur tadi. Namun ada fenomena menarik. Bengkelpun mulai buka hingga pagi. Mereka melayani karyawan yang ada masalah di kendaraannya. Mereka setor motor malam dan paginya jalan lagi.
4. Pasar yang terjadi karena keadaan. Seperti di Stasiun, terminal, halte. disebabkan mepetnya waktu sementara ada kebutuhan mendesak, maka orang cenderung membeli ditempat terdekat meskipun mahal. Pasar ini kebanyak diisi oleh pedagang K-5.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hasan
| http://hasanbasri.com | mail: habe.inc@gmail.com | 0811-826362 |
http://grosirtanahabang.com (dibuka Program keagenan GTA)
http://workshopedan.com ( next seminar event with RYL-AMA-DKI, 28 Juni 2008)
Langganan:
Postingan (Atom)